WR V UMI: Dekarbonisasi Industri Tak Bisa Hanya Andalkan Teknologi

2026-07-14
WR V UMI: Dekarbonisasi Industri Tak Bisa Hanya Andalkan Teknologi

Wakil Rektor V Universitas Muslim Indonesia (UMI), Setyawati Yani, menegaskan bahwa upaya penurunan emisi karbon memerlukan kebijakan adil dan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi.

Setyawati Yani menyoroti kompleksitas tantangan dekarbonisasi dalam sektor industri global saat ini. Menurutnya, transisi menuju ekonomi rendah karbon memerlukan pendekatan multidimensi yang melibatkan integrasi antara inovasi teknis dan regulasi yang inklusif.

Keseimbangan Kebijakan dan Teknologi

Dalam paparannya, Setyawati menekankan bahwa implementasi teknologi ramah lingkungan harus dibarengi dengan kebijakan yang menjamin keadilan bagi seluruh pemangku kepentingan. Tanpa landasan regulasi yang kuat, adopsi teknologi baru berisiko menciptakan ketimpangan ekonomi di sektor industri.

Fokus utama dalam proses dekarbonisasi ini mencakup:

  • Pengembangan inovasi teknologi yang efisien energi.
  • Penerapan kebijakan karbon yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
  • Penciptaan ekosistem industri yang mampu beradaptasi dengan standar emisi global.

Tantangan Implementasi Dekarbonisasi

Tantangan terbesar dalam menurunkan emisi karbon terletak pada sinkronisasi antara target lingkungan dan kemampuan finansial industri. Setyawati menggarisbawahi bahwa teknologi canggih seringkali membutuhkan investasi besar yang dapat membebani pelaku industri, terutama di negara berkembang.

Oleh karena itu, dibutuhkan skema pendanaan dan dukungan kebijakan yang mampu memitigasi risiko ekonomi selama masa transisi energi. Langkah ini bertujuan agar penurunan emisi karbon dapat berjalan selaras dengan stabilitas sektor industri nasional.

Baca lebih lanjut
Rekomendasi
Rekomendasi